Selamat Datang di Blog Fauziah Amriny. Selamat Membaca

Sabtu, 01 Februari 2014

Holiday in Jogja Part 1



***Perjalanan yang penuh warna..

Jogja, sebuah tempat yang sangat menarik untuk dikunjungi. Awalnya hanya sebuah mimpi ingin menginjakkan kaki di negeri yang dikenal dengan negeri keraton dan kota pelajar ini. Tetapi dengan adanya mimpi ini, membuat aku termotivasi agar suatu saat bisa berkunjung kesana. Alhamdulillah akhirnya aku diberi kesempatan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata yang cukup terkenal di kota ini. Banyak kejadian lucu, menarik, mengejutkan hingga yang menyedihkan. Semua itu akan selalu dikenang sebagai salah satu perjalanan yang sangat mengesankan. Kisah ini terukir saat tahun pertama aku meniti langkah demi sebuah ilmu di tanah Jawa ini.

Saat itu aku dan teman seperjuanganku semenjak di Pesantren ingin mengisi waktu liburan yang hanya seminggu dengan hal yang cukup menarik dan berbeda. Karena kalaupun kami memilih untuk pulang ke Bukittinggi, tentu itu akan mengeluarkan biaya yang cukup banyak. Akhirnya kami pun mempunyai ide untuk mengunjungi teman kami yang ada di Jogja. Namun keraguan mulai muncul, karena kami tidak berani kalau melakukan perjalanan ini hanya berdua. Ditambah kami belum mempunyai pengalaman yang cukup untuk melakukan perjalanan yang cukup jauh di tanah Jawa ini. Harapan itu pun semakin kecil dan kami tidak mau terlalu berharap, awalnya aku sudah meminta izin, namun karena kendala ini aku memutuskan untuk memberitahu orang tua kalau aku dan temaku tidak jadi liburan ke Jogja. Dengan berat hati aku dan temanku memutuskan untuk menghabiskan liburan di asrama Tazkia. Cukup menyedihkan memang dengan suasana asrama yang sudah mulai sepi karena sebagian besar temanku memilih untuk berliburan di rumah mereka atau di rumah saudara mereka.

Mimpi yang sudah mulai terhapus itu akhirnya mendapatkan sebuah harapan baru. Kami bertemu dengan teman asrma yang saat itu juga ingin berliburan ke Jogja, dan akhirnya kami merencanakan berangkat sore itu juga. Karena semua dilakukan dengan dadakan, kami hanya sempat membeli sedikit buah tangan untuk sahabat kami yang di Jogja. Sore itu kami menuju stasiun Bogor, disini kami mengambil kereta tujuan Jakarta Kota. Dengan kondisi keuangan yang pas-pasan kami memilih untuk naik kereta ekonomi. Di stasiun kota inilah awalnya kami akan menaiki kereta menuju Jogja. Namun nasib berkata lain, ternyata kereta untuk tujuan Jogja sudah berangkat. Kalaupun kami kembali ke Bogor sudah tidak ada kereta tujuan Bogor dan satu-satunya jalan yaitu kami harus ke stasiun Senen.

Alhamdulillah, akhirnya kami masih sempat naik kereta tujuan stasiun Senen walaupun harus berlarian dengan barang yang cukup berat. Kami berlarian mengejar kereta terakhir tujuan stasiun Senen itu dengan nafas yang sudah tidak beraturan. Sesampainya di stasiun Senen kami shalat magrib dan setelah itu kami membeli tiket. Namun saat itu kami kehabisan tiket kereta ekonomi tujuan Jogja. Kalaupun memaksakan diri, resikonya kami tidak mendapatkan tempat duduk. Sedangkan kalau kami memilih kereta Eksekutif, itu tidak sesuai dengan estimasi buget pertama kami. Dan akhirnya kami memaksakan untuk mengambil tiket ekonomi walaupun dengan resiko tidak mendapatkan tempat duduk. Saat pertama kali memasuki kereta kami selalu berdoa, semoga tempat duduk yang kami duduki saat itu tidak ada penumpangnya.

Dari satu stasiun ke stasiun yang lain hati kami selalu berdegub kencang, takut kalau pemilik tiket dengan nomor bangku kami datang. Dan sampailah waktunya orang yang memiliki tiket dengan nomor bangku kami datang, tetapi karena melihat kami perempuan mereka tidak tega mengusir kami, dan akhirnya menyuruh kami tetap duduk disana dengan syarat kami membayar tambahan uang Rp.10.000,-. Membayangkan perjalanan yang cukup lama yaitu skitar ± 12 jam, akhirnya kami memutuskan untuk membayar tambahan agar kami bisa tetap duduk sampai di Jogja nanti. Selama perjalanan kami tidak bisa terlelap tidur karena suara-suara para penjaja makanan yang cukup mengganggu. Kalaupun kami ingin tidur, kami melakukan shift agar keadaan barang-barang kami tetap terjaga dari tangan-tangan tukang jambret kereta ekonomi yang cukup terkenal.

Saat aku sudah cukup terlelap, suara temanku pun memanggil membangunkan untuk melaksanakan shalat subuh. Setelah shalat subuh kami kembali bercerita dan ternyata tadi malam temanku sempat ditarik-tarik tasnya oleh pencuri saat dia baru terlelap, namun untungnya temanku menyadari dan berusaha mempertahankan tasnya. Cerita ini cukup memberikan kami pelajaran agar lebih berhati-hati lagi untuk perjalnan selanjutnya.

Matahari pun mulai menampakkan sinarnya, dan perjalanan kami semakin mendekati tujuan. Penumpang pun mulai turun dari satu stasiun ke stasiun lain, dan kami turun di stasiun paling akhir yaitu stasiun Tugu. Alhamdulillah, akhirnya kami sampai di Kota Jogja dan disini kami mulai berpisah. Aku dan temanku sempat merasa bingung karena saat itu temanku yang di Jogja tidak bisa menjemput kami di stasiun karena mereka pagi itu ada kuliah. Dengan bertanya-tanya akhirnya kami memilih untuk naik ojek menuju kampus UIN Jogja. Sesampainya di Kampus UIN kami kembali bingung karena baru pertama kali itu kami kesana. Namun kami kembali diberi kemudahan, kami dipertemukan dengan kakak kelas semasa di Pesantren Parabek yang akhirnya mengantarkan kami ke kelas teman kami. Berhubung teman kami masih ada kuliah, kami menunggu di ruang baca kampus. Saat zuhur tiba teman kami pun keluar kelas dan kami menuju mushala kampus untuk melaksanakan shalat zuhur. Setelah shalat zuhur kami diajak masuk kelas bahasa inggris karena kebetulan saat itu teman kami ada kelas bahasa inggris dan setelah kelas kami makan di salah satu cafe dekat kampus dan setelah itu kami pulang ke pesantren dimana temanku tinggal. Yah, sebuah pesantren yang cukup terkenal di Jogja. Seperti sebuah mimpi, akhirnya kami bisa menginjakkan kaki di tanah Jogja walau dengan perjuangan yang cukup melelahkan. Sebelum masuk pesantren kami izin dulu kepada pemilik pesantren, saat itu kami minta izin kepada ibu nyai (panggilan untuk istri pemilik pesantren di Jawa). Kami sangat bahagia karena saat itu kami diberi izin untuk tinggal disana selama kami berada di Jogja.

 Foto di depan gerbang pesantren







Tidak ada komentar:

Posting Komentar